MENGHITUNG SKOR KLASEMEN SEPAK BOLA DENGAN METODE SAW & AHP
MENGHITUNG SKOR KLASEMEN SEPAK BOLA
MENGGUNAKAN METODE SAW & AHP
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Metode yang
digunakan dalam pengambilan keputusan Perangkingan Skor Klub Sepak Bola dengan
penggabungan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan metode Simple
Addictive Weight(SAW). Metode AHP digunakan untuk pembobotan kriteria dan uji
konsistensi terhadap matriks perbandingan berpasangan, sedangkan metode SAW
digunakan untuk melakukan perankingan dalam menentukan alternatif terbaik.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Bagaimanan cara menghitung perangkingan Skor Sepak
Bola dengan Metode SAW?
2.
Bagaimanan cara menghitung perangkingan Skor Sepak
Bola dengan Metode AHP?
2.
1.3 Tujuan
1. Untuk
mengetahui penerapan metode SAW(Simple Addictive Weight) dalam penghitungan
skor klasemen sepak bola
2. Untuk
mengetahui penerapan metode AHP dalam penghitungan skor klasemen sepak bola
Ø Metode Simple
Addictive Weight
A. PENGERTIAN
Simple
Additive Weighting adalah metode yang sering dikenal dengan mentode penjumlahan
terbobot. Maksud dari penjumlahan terbobot yaitu mencari penjumlahan terbobot
dari rating di tiap alternatif pada seluruh atribut/ kriteria. Hasil/ Skor
total yang diperoleh untuk sebuah alternatif yaitu dengan menjumlahkan semua
hasil perkalian antara rating / yang dibandingkan pada lintas atribut dan bobot
setiap atribut. Rating pada setiap atribut sebelumnya harus sudah melalui proses
normalisasi.’
B.
LANGKAH
PENYELESAIAN METODE SAW
1. Menentukan
kriteria-kriteria yang akan dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan, yaitu
Ci.
2. Menentukan rating kecocokan setiap alternatif pada setiap kriteria.
3. Membuat matriks keputusan berdasarkan kriteria(Ci), kemudian melakukan normalisasi matriks berdasarkan persamaan yang disesuaikan dengan jenis atribut (atribut keuntungan ataupun atribut biaya) sehingga diperoleh matriks ternormalisasi R.
4. Hasil akhir diperoleh dari proses perankingan yaitu penjumlahan dari perkalian matriks ternormalisasi R dengan vektor bobot sehingga diperoleh nilai terbesar yang dipilih sebagai alternatif terbaik (Ai)sebagai solusi.
2. Menentukan rating kecocokan setiap alternatif pada setiap kriteria.
3. Membuat matriks keputusan berdasarkan kriteria(Ci), kemudian melakukan normalisasi matriks berdasarkan persamaan yang disesuaikan dengan jenis atribut (atribut keuntungan ataupun atribut biaya) sehingga diperoleh matriks ternormalisasi R.
4. Hasil akhir diperoleh dari proses perankingan yaitu penjumlahan dari perkalian matriks ternormalisasi R dengan vektor bobot sehingga diperoleh nilai terbesar yang dipilih sebagai alternatif terbaik (Ai)sebagai solusi.
C.
RUMUS DASAR METODE SAW
Formula untuk
melakukan normalisasi tersebut adalah :
Dimana :
rij = rating kinerja ternormalisasi
Maxij = nilai maksimum dari setiap baris dan kolom
Minij = nilai minimum dari setiap baris dan kolom
Xij = baris dan kolom dari matriks
Dengan rij adalah rating kinerja ternormalisasi dari alternatif Ai pada atribut Cj; i =1,2,…m dan j = 1,2,…,n.
rij = rating kinerja ternormalisasi
Maxij = nilai maksimum dari setiap baris dan kolom
Minij = nilai minimum dari setiap baris dan kolom
Xij = baris dan kolom dari matriks
Dengan rij adalah rating kinerja ternormalisasi dari alternatif Ai pada atribut Cj; i =1,2,…m dan j = 1,2,…,n.
Nilai
preferensi untuk setiap alternatif (Vi) diberikan sebagai :
Dimana :
Vi = Nilai akhir dari alternatif
wj = Bobot yang telah ditentukan
rij = Normalisasi matriks
Nilai Vi yang lebih besar mengindikasikan bahwa alternative Ai lebih terpilih
D. DATA KASUS
Klub
|
Menang(C1)
|
Seri(C2)
|
Kalah(C3)
|
PSIS
|
13
|
7
|
14
|
Borneo
|
14
|
6
|
14
|
PSM
Makassar
|
18
|
10
|
7
|
Penyederhanaan dengan Perkalian Matrix
Klub
|
Menang
(C1)
|
Seri(C2)
|
Kalah(C3)
|
PSIS
|
13
|
3,5
|
3,5
|
Borneo
|
14
|
3
|
3,5
|
PSM Makassar
|
18
|
5
|
1,75
|
C1
R11= 1
R21= 1,1
R31= 1,3
C2
R12= 0,7
R22= 0,6
R32= 1
C3
R13= 0,5
R23= 0,5
R33= 1
KLUB
|
C1
|
C2
|
C3
|
PSIS
|
1
|
0,7
|
0,5
|
BORNEO
|
1,1
|
0,6
|
0,5
|
PSM MAKASSAR
|
1,3
|
1
|
1
|
PENENTUAN HASIL PERANGKINGAN
KLUB
|
Nilai Akhir
|
PSM MAKASSAR
|
0,69
|
BORNEO
|
0,5
|
PSIS
|
0,49
|
ØMetode AHP
A. PENGERTIAN
AHP merupakan suatu
model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model
pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi
kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki.
Menurut Saaty (1993),
hirarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang
kompleks dalam suatu struktur multi level dimana level pertama adalah tujuan,
yang diikuti level faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya ke bawah
hingga level terakhir dari alternatif. Dengan hirarki, suatu masalah yang
kompleks dapat diuraikan ke dalam kelompok-kelompoknya yang kemudian diatur
menjadi suatu bentuk hirarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur
dan sistematis.
B.
LANGKAH
PENYELESAIAN METODE AHP
§ Mendefinisikan
Masalah
§ Menetapkan
Prioritas Elemen
§ Sintesis
§ Mengukur
Konsistensi
§ Hitung
Consistency Indeks (CI)
§ Hitung
Consistency Ratio (CR)
§ Memeriksa
Consistency Hirarki
C.
PENYELESAIAN
KASUS
o Definisi
Masalah
o
Penetuan Prioritas Elemen
1. Membuat perbandingan berpasangan yaitu dengan
membandingkan elemen secara berpasangan sesuai dengan kriteria yang diberikan
2. Matriks Perbandingan berpasangan diisi menggunakan
bilangan untuk
mempresentasikan kepentingan
relatif dari suatu elemen terhadap elemen lainnya.
Prosedur penilaian perbandingan berpasangan dalam AHP,
mengacu pada skor penilaian yang telah dikembangkan oleh Thomas L Saaty,
sebagai berikut
o
Sintesis
Untuk memperoleh prioritas
secara keseluruhan maka pertimbangan-pertimbangan
terhadap perbandingan
berpasanganperlu di sintesis.
1) Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom
2) Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom
yang bersangkutan untuk
memperoleh
normalisai
3) Menjumlahkan setiap kolom normalisasi dan menghitung
rata-rata setiap barisnya
4) Perkalian matriks dari baris nilai dengan kolom
rata-rata.
o
Mengukur Konsistensi
Nilai Maksimal Consistency
Ratio (CR) = 0,1 ATAU 10%
1) Mengalikan setiap nilai pada kolom pertama
dengan prioritas elemen pertama, nilai pada kolom kedua dengan prioritas elemen
kedua, dan seterusnya.
2) Jumlah setiap baris
3) Hasil dari penjumlahan baris dibagi elemen prioritas
relatif yang bersangkutan
4) Jumlahkan hasil bagi diatas dengan banyaknya elemen
yang ada hasinya disebut
l maks
o
Hitung Konsistensi CI
o
Hitung CR
o
Memeriksa Konsistensi Hierarki
Daftar
Indeks Random RI







Komentar
Posting Komentar